Wednesday, March 31, 2010

Inikan masalah khilaf ...

Menjadikan perselisihan sebagai sandaran hukum

Sebagian kaum muslimin dalam membenarkan madzhab yang ia anut –walaupun itu madzhab yang lemah – bersandar dengan pernyataan bahwa masalah ini adalah masalah yang masih diperselisihkan !

Sandaran seperti ini adalah suatu pegangan yang sama sekali tidak syar’iey, dan merupakan peletakan dasar hukum yang tidak didasari oleh hukum syara’, ia bukan merupakan ayat dalam Kitabullah ataukah sebuah hadits.

Mari kita periksa apakah kata-kata ulama berkaitan hal ini :

Berkata Al Hafidz Abu ‘Umar Ibnu ‘Abdil Barr : ” Perselisihan bukanlah suatu sandaran hukum dalam pandangan seorangpun dari fuqaha’ kaum muslimin, terkecuali menurut seseorang yang tidak mempunyai pengetahuan dan ma’rifah ilmu, dan pendapat seseorang bukanlah hujjah. [1]

Berkata Al Khaththabi : ” Perselisihan bukanlah suatu hujjah, sedangkan pemaparan sunnah itulah hujjah sebenarnya bagi mereka yang berselisih baik itu generasi pendahulu maupun generasi belakangan ini ” [2]

Demikian pula berkata Asy Syathibi – rahimahullah – : ” Dan persoalan ini menjadi semakin melampaui kadar yang sepatutnya, dimana perselisihan pada sejumlah masalah-masalah syara’ dipandang sebagai landasan bolehnya permasalahan tersebut. Dan hal yang telah terjadi , sejak dulu dan yang muncul belakangan pada zaman ini berpegang akan bolehnya suatu perbuatan dengan dalih bahwa perbuatan itu adalah suatu yang masih diperselisihkan oleh Ahlil ‘Ilmi, bukan dalam tinjauan sebagai suatu sudut pandang lain bagi masalah khilafiyah, dimana ini mempunyai cakupan yang berbeda.
Terkadang didapati adanya fatwa pada masalah tertentu sebagai suatu yang dilarang, namun dikatakan : Bukanlah suatu yang terlarang, dikarenakan masalah ini masih diperselisihkan ?!, maka iapun menjadikan khilaf (perselisihan )sebagai sandarannya dalam pembolehan sesuatu hanya kerana masalah itu diperselisihkan, bukan karena adanya dalil yang menunjukkan shohihnya madzhab yang membolehkan, bukan pula karena taqlid kepada seseorang yang layak diikuti dan lebih utama dari yang berpendapat larangan pada masalah itu. Dan inilah kesalahan yang jelas dalam menyikapi syari’at, dimana menjadikan suatu yang tidak patut dijadikan sandaran sebagai sandaran dan yang bukan hujjah sebagai hujjah[3]

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : ” Tidak dibenarkan bagi seorangpun untuk bersandar pada pendapat seseorang dalam masalah-masalah yang masih diperdebatkan,  hujjah tiada lain adalah nash-nash syara’, ijma’ dan dalil yang dirangkum dari nash-nash tersebut, yang mana rangkaian penjabarannya dikuatkan oleh dalil-dalil syara’, bukan pendapat sebagian ulama, ini kerana pendapat para ulama hanya boleh dijadikan hujjah jika pendapat itu sesuai dengan dalil-dalil syar’iey bukan dijadikan sandaran untuk berpaling dari dalil-dalil syar’iey.[4]
Jelas dari kata ulama tadi bahawa tidak boleh berhujjah dengan khilaf ulama, yang sedihnya adalah seperti hujjah terkuat ramai dikalangan masyarakat kita termasuk sebahagian asatizahnya.

Sebagai contoh : Ada segolongan yang memakan wang riba ( interest ) yang diberikan oleh pihak bank. Bila dikatakan kepadanya : " Bukankah riba diharamkan Allah dan rasulNya ? ' Beliau akan menjawab : " Tetapi inikan masalah khilaf, Syaikh Azhar tukan kata boleh ? "  
Ada yang bernikah diluar negeri dengan tanpa izin wali perempuan  dan berhujjah : Inikan masalah khilaf. Inikan mazhab Hanafi ? " Sedangkan pada zaman ini untuk meminta izin wali perempuan amat mudah sekali, sekedar menekan butang nombor handphone. Padahal jumhur ulama berhujjah dengan sabda Nabi SAW : " Mana-mana wanita yang menikahi dirinya sendiri dengan tanpa izin walinya, naka nikahnya batil. nikahnya batil, nikahnya batil. " Mereka enggan menoleh kepada dalil2 yang diketengahkan para ulama, mereka cukup gembira apabila diberitahu bahawa terdapat khilaf dalam masalah ini, lalu terus bersandarkan kepadanya seolah2 ia satu ayat Al-Quran atau sepotong Hadith.

Maka kita dapati sebahagian mereka bersikap ghuluw (melampau) dalam berlapang dada dalam masalah khilaf, sehingga menuduh orang yang menasihati mereka sebagai tidak menghormati khilaf ulama, keras dan sebagainya.

 نسأل الله العافية
_________
[1] Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi 2 / 229
[2] A’lamul Hadits 3 / 2092
[3] Al Muwafaqaat 4 / 141
[4] Majmu’ Fatawa 26 / 202 – 203




1 comment: